Edukasi Tani melalui Festival “Mbok Sri Mulih”

KLATEN  – Tapakan 2 (gladi bersama kedua) GORA SWARA NUSANTARA – II kali ini mengusung tema MANDIRI PANGAN, yang dikemas dalam Gelar Budaya Tani, dengan mengambil setting lokasi di Kebonsari, Delanggu. Rangkaian Gelar budaya tani ini diawali dengan proses penggarapan lahan, cara bertanam sampai dengan proses panen padi. Pada rangkaian proses ini, dilibatkan pula siswa – siswi dari SD, SMP sekitar, Karang Taruna Kebonsari, Delanggu serta masyarakat/Kelompaok tani setempat, dengan bimbingan dari Dinas Pertanian Kabupaten Klaten serta tokoh masyarakat tani setempat.

Pemerintah Kabupaten Klaten, yang dalam hal ini diwakili oleh Sri Winoto selaku Asisten Administrasi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi sekaligus sangat mendukung acara-acara yang lahir dari inisiasi rakyat tapi mampu menggali sekaligus mengangkat kembali potensi-potensi Klaten dari berbagai hal. Gora Swara Nusantara ini mampu merangkumnya dengan sangat baik, semua hal bahkan bisa masuk dan berkolaborasi dalam Gora Swara Nusantara.

Dikatakan Eksan Hartanto, selaku koordinator panitia lokal, sekaligus perwakilan karang taruna Desa Kebonsari, bahwa pelibatan anak-anak dan remaja pada acara ini dimaksudkan untuk memberikan pendidikan tentang pertanian kepada generasi muda sekalgus menanamkan kecintaan kepada Klaten maupun kebanggan sebagai petani atau anak petani. Sehingga, jika generasi muda mengerti tentang pertanian, timbul rasa bangga sebagai anak petani kemudian mau belajar tentang pertanian maka pertanian Klaten terutama Delanggu akan semakin maju dan tetap mandiri dalam bidang pangan.

Selain rangkaian proses bertani, dalam acara ini juga digelar lomba pari dengan menghadirkan juri dari dinas pertanian, aktifis petani organik serta tokoh petani Klaten. Menurut Wening Swasoso, yang juga ketua tim juri lomba pari, acara semacam ini akan sangat baik dan bermanfaat terutama untuk menguatkan kembali ikon Klaten (terutama) Delanggu sebagai lumbung pangan Nasional, dan kami berharap even semacam ini menjadi acara rutin yang diadakan tahunan oleh pihak terkait terutama pemerintah Klaten atau Pemerintah setempat.

Adapun puncak rangkaian dari proses ini adalah pesta panen yang dimeriahkan oleh ratusan pelaku seni dari berbagai kelompok seni se-Kabupaten Klaten dengan mengusung tema “Mbok Sri Mulih”. Muhammad Ansori, sebagai salah satu pegiat seni yang juga memandu dalam rangakai pagelaran ini mengatakan bahwa, tema mbok sri mulih diambil setelah melalui diskusi panjang. Adapun makna dari tema tersebut ingin menjelaskan bahwa Klaten sangat layak dan memiliki semua syarat untuk tetap menjadi lumbung nusantara. Hal ini sekaligus sebagai ajakan kepada semua masyarakat Klaten terutama untuk merebut kembali (mulih/Pulang) kejayaan Klaten dalam hal pertanian (yang disimbulkan dengan tokoh mBok Sri dan Ibu Bumi) dengan syarat utama kita mau dan mampu bekerjasama, menjaga kebersamaan serta kerja bersama – sama untuk Klaten untuk lebih baik.

Seperti pagelaran-pagelaran sebelumnya dan  setelah sukses dalam penampilan pertama pada bulan Oktober 2016 lalu di Kemalang, Gora Swara Nusantara – II kali ini tetap menyuguhkan kolaborasi sejumlah elemen masyarakat mulai melakukan perpaduan budaya yang pada penampilan sebelumnya tidak ada, mulai dari seni karawitan, gejug lesung, jimbe, Hadroh dan perkusi, truntung bayat, sendra tari, jantur, paduan  suara, instalasi dan lain-lain, pada pagelaran kali ini juga ada tambaha dari seni bambu gila dan orkestra.

Kita masih terus menggali dan mengajak kelompok-kelompok dan juga para seniman atau pelaku seni yang sama-sama punya kepedulian tentang Klaten untuk bergabung (nyedulur) dengan para pelaku seni yang sudah ada untuk bersama-sama berproses menuju puncak acara  GORA SWARA NUSANTARA – II  pada 28 Oktober 2017 di Deles, Sidorejo, Kemalang nanti, imbuhnya.

telah dibaca: 128 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *