FESTIVAL GEJOG LESUNG UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA TRADISIONAL

Festival Gejog Lesung 8 Agustus 2015KLATEN – Sabtu (08/08) Panitia Hari Jadi ke-211 Klaten dan Hari Ulang Tahun ke-70 Republik Indonesia (HUT RI) tahun 2015 menggelar Festival Gejog Lesung. Kegiatan diikuti oleh 18 kelompok utusan dari sejumlah kecamatan. Festival yang sempat menarik perhatian ratusan orang untuk menyaksikan itu, diselenggarakan di lapangan desa Barepan kecamatan Cawas .

Festival memperebutkan juara I hingga harapan III dengan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp. 9,5 juta itu, melibatkan tim juri dari Taman Budaya Jawa Tengah, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Dewan Kesenian Kabupaten Klaten. Festival yang semula hanya khusus diperuntukkan bagi wilayah kecamatan Cawas itu, oleh panitia diperluas di tingkat kabupaten yang akhirnya diikuti oleh 18 kelompok yang masing-masing beranggotakan 10 orang.

Setelah menampilkan kepiwaiannya sekitar 10 menit anggota kelompok yang rata-rata berusia lanjut itu menyuguhkan lagu wajib Lesung Jumengglung Karya dalang Kondang KI Nartosabdo (Alm.) dan satu lagu pilihan yang lain akhirnya berhasil dipilih pemenangnya. Adapun urutan Juara I Kelompok Gejog Lesung GUYUB WARGA (Cawas) nilai 905, juara II kelompok NGUDI LESTARI (Pedan) nilai 860 dan kelompok MANUNGGAL LARAS (Karangdowo) nilai 825. Juara Harapan I dan II utusan dari kecamatan Delanggu dan Prambanan.

Camat Cawas, Muhamad Nasyir dalam sambutannya mengatakan, sejak dahulu wilayahnya dikenal sebagi daerah Lumbung Padi yang tidak lepas dengan Gejok Lesungnya sebagai penumbuk padi untuk dijadikan beras. Hal tersebut menjadikan petani daerah setempat memiliki banyak lesung untuk menumbuk padinya disaat panen. “Sesuai perkembangan jaman kini Lesung tidak lagi digunakan sebagai alat penumbuk padi, namun seni musik Lesung itu perlu terus dilestarikan dan dikembangkan agar generasi muda tetap mengingat pada seni leluhurnya “ ujarnya .

Anggota tim penilai dari Taman Budaya Jawa Tengah Suparman mengatakan, karena tidak sudah tidak digunakan sebagai alat penumbuk padi, kini generasi muda dan anak- anak tidak banyak yang mengetahui kegunaan dan manfaat Lesung. Peralatan yang bisa digunakan sebagai alat musik tradisional itu keberadaannya perlu dilestarikan, antara lain dengan menggelar Festifal Gejog Lesung semacam ini.     “ Kami menaruh apresiasi yang tinggi terhadap panitia yang telah berupaya melestarikan budaya tradisional Gejog Lesung yang ada di Klaten “ ujarnya.

Terpisah keterangan dari anggota festival Gejog Lesung Kelompok Cahyo Jumengglung Gayamprit Klaten Selatan Karsono mengatakan, kelompoknya diundang khusus oleh panitia untuk mengikuti festival. Untuk mempersiapkan kegiatan ini pihaknya melakukan latihan beberapa pertemuan menggunakan lesung buatan sekitar 15 tahun silam. Namun terdapat kelompok lain yang rutin mengadakan latihan menggunakan peralatan Lesung lama yang usianya sudah mencapai ratusan tahun yang dulunya sering digunakan untuk menumbuk padi.

telah dibaca: 347 kali

Bagikan melalui:

Comments are closed