Hingga Juli 2017 Ada 38 Kasus Leptospirosis, Humas Klaten Sosialisasikan Bahaya Penyakit Leptospirosis

Klaten – Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemkab Klaten terus berupaya menyosialisasikan bahaya penyakit leptospirosis yang disebabkan air kencing tikus. Sosialisasi bahaya penyakit leptospirosis yang dilakukan Bagian Humas melalui siaran penyuluhan di RSPD Klaten, pemberitaan RSPD Klaten, berita di website Humas Pemkab Klaten dan siaran keliling memakai mobil penyuluhan keliling.

Demikian dikatakan Kepala Bagian Humas Pemkab Klaten H Wahyudi Martono SSos MM didampingi Kepala Sub Bagian Analisis dan Kemitraan Media H Moch Isnaeni SPd di Pemkab Klaten, Rabu (5/7/2017). Ke depan, kata H Wahyudi Martono SSos MM, Bagian Humas Klaten akan terus melakukan sosialisasi bahaya penyakit leptospirosis ke kecamatan-kecamatan dan desa yang selama ini terjangkit penyakit leptospirosis.

Pada kesempatan tersebut H Wahyudi Martono mejelaskan, selama 2017 mulai Januari hingga awal Juli 2017 di Klaten terdapat sebanyak 38 kasus leptospirosis yang mengakibatkan lima orang meninggal dunia, sehingga harus diwaspadai oleh semua pihak sehigga penyakit leptospirosis dapat dicegah. Perincian kasus leptospirosis selama tahun 2017 masing-masing Januari 4 kasus, Februari 3 kasus dengan 1 orang meninggal, Maret 15 kasus dengan tiga orang meninggal, April 9 kasus, Mei 7 kasus dengan 1 meninggal dunia dan Juni tidak ada kasus serta sampai awal Juli belum ada kasus yang dilaporkan.

Kabag Humas Pemkab Klaten H Wahyudi Martono, SSos MM.

H Wahyudi Martono juga menjelaskan, penyebaran kasus penyakit leptospirosis berada di 14 kecamatan sehingga hanya 12 kecamatan yang selama ini bebas dari penyakit leptospirois. Maka dari itu diharapkan 14 kecamatan yang endemis penyakit leptospirosis harus selalu waspada dan agar juga ikut terus menyosialiasikan penyakit yang membahayakan tersebut.

Penyebaran penyakit leptospirosis di 14 kecamatan tersebut, kata H Wahyudi Martono, yakni Kecamatan Karangnongko dua kasus di Desa Kadilaju dan Blimbing, Kecamatan Ceper 3 kasus di Kujon, Mlese, Ceper, Kecamatan Gantiwarno lima kasus di Jabung, Towangsan 2 kasus, Sawit dan Gesikan. Kemudian Kecamatan Polanharjo 1 kasus di Kahuman, Kecamatan Ngawen 3 kasus di Mayungan, Tempursari dan Sojayan, Kecamatan Jogonalan 4 kasus di Rejoso 2 kasus, Kraguman dan Titang.

Selanjutnya, ujar H Wahyudi, Kecamatan Cawas 2 kasus di Balak dan Gombang, Kecamatan Wedi 5 kasus di Trotok, Brangkal, Birit, Tanjungan dan Canan, Kecamatan Klaten Utara 3 kasus di Gergunung, Karanganom dan Ketandan. Kemudian Kecamatan Trucuk 3 kasus di Palar, Bero, Karangpakel, Kecamatan Karangdowo  2 kasus di Sentono dan Bulusan, Kecamatan Klaten Selatan ada dua kasus di Desa Glodogan, Kecamatan Manisrenggo 2 kasus di Soldiran dan Barukan serta Kecamatan Kalikotes 1 kasus di Desa Jimbung.

Menurut H Wahyudi Martono, sesuai data yang disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten berdasarkan penyelidikan epidemiologi yang telah dilakukan bahwa penyakit leptospirosis disebabkan faktor resiko luka, ada tikus di rumah dan tempat kerja seperti di sawah atau di selokan sehingga memungkinkan terjadinya penularan bakteri leptospira yang ada di tikus ke manusia. Untuk menghindari penyebaran penyakit eptospirosis maka yang harus dilakukan adalah sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan pembasmian tikus baik di rumah maupun di sawah maupun di selokan sehingga seluruh warga terhindar dari penyakit leptospirosis.

telah dibaca: 16 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *