Manjung, Inilah Desa Pancasila di Klaten

KLATEN — Desa Manjung, Kecamatan Ngawen, Klaten, membentuk patriot desa. Pembentukan patriot desa dimaksudkan untuk membumikan Gerakan Desa Pancasila.

Pelatihan itu digelar di Kantor Desa Munjung, Rabu-Jumat (12-14/7/2017). Sebanyak 20 pemuda yang masih duduk di bangku SMA/SMK mengikuti pelatihan tersebut. Selama tiga hari dua malam, para peserta menginap di kantor desa.

Kepala Desa Manjung, AB Amanto, mengatakan pelatihan digelar bekerja sama dengan Universitas Proklamasi 45, Yogyakarta dan BMT Inti sebagai narasumber.

“Sejarahnya dulu waktu ketemu Prof. Dawam Rahardjo [Rektor Universitas Proklamasi 45] dan dari BMT Inti mendatangi kantor desa pada 2016. Dari pertemuan itu Desa Manjung akan menjadi Desa Pancasila. Kemudian kami komunikasikan lagi dan konsultasi ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa akhirnya disetujui,” kata Amanto saat ditemui di kantor desa setempat, Rabu (12/7/2017).

Amanto menjelaskan 30 peserta merupakan pemuda perwakilan dari setiap RW di Manjung. Manjung memiliki 10 RW dengan total jumlah penduduk 3.661 jiwa dan luas wilayah 124 hektare (ha). “Kami sengaja gerakkan dari pemuda karena jangkauan mereka lebih banyak daripada yang sudah dewasa,” urai dia.

Para peserta bakal menjadi kader patriot desa di masing-masing wilayah. Mereka menjadi kader untuk menggerakkan semangat toleransi. Selain untuk menangkal sikap intoleransi, pembentukan kader tersebut juga dimaksudkan menangkal paham radikalisme.

“Setelah mengikuti pelatihan, mereka menjadi kader di masing-masing wilayah mengajak warga untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Utamanya, mereka mengajak warga untuk menggerakkan kebersamaan, toleransi antarumat beragama,” ungkap dia.

Amanto menjelaskan pelatihan itu didanai dari dana desa melalui karangtaruna. Anggaran yang dialokasikan untuk pelatihan tersebut sekitar Rp9 juta.

Ketua Karang Taruna Desa Manjung, Sugiyarto, juga menjelaskan selain pelatihan di dalam kelas para pemuda juga bakal melakukan survei ke masing-masing wilayah untuk menyerap aspirasi warga. “Ada kegiatan saat malam juga. Selama pelatihan ini memang mereka menginap di kantor desa agar materi yang disampaikan bisa meresap,” urai dia.

Di Manjung, terdapat satu gereja, satu pura, serta 11 masjid/musala. “Tidak pernah terjadi gesekan antarumat beragama. Ketika ada warga yang merayakan Natal, anggota Karang Taruna yang muslim menjaga. Begitu juga sebaliknya termasuk ketika ada hari keagamaan umat beragama lain,” kata dia.

Sumber

telah dibaca: 2 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *