Pengibaran Bendera di Kali Pusur

Pengibaran Bendera di Kali Pusur (1)
Pengibaran Bendera di Kali Pusur (2)

Klaten- Upacara bendera selain terpusat di alun-alun Klaten, juga dilakukan di atas Bendungan Ploso Wareng, Kali Pusur, di perbatasan Desa Wangen dan Desa Polan, Kecamatan Polanharjo, Kamis (17/8).
Sebuah bendera berukuran 6X4 meter dikibarkan di atas Dam Ploso Wareng, Sungai Pusur. Ekspresi kreatif sebagai ungkapan Kegembiraan merayakan HUT RI ke – 72 dilakukan oleh komunitas pecinta Kali Pusur. Mereka berkolaborasi mengibarkan bendera merah putih raksasa terbuat dari ribuan tas kresek yang disatukan.
Pengibar bendera terdiri sembilan orang yang mewakili sejumlah komunitas. Antara lain Manajer CSR PT Tirta Investama Klaten Rama Zakaria, Muhammad Ramadhan juga dari PT Tirta Investama, Ketua LSM Lestari Agus Hartono dan lainya. Pengibaran bendera Merah Putih sendiri dikerek oleh pemuda-pemuda setempat dengan diiringi lagu Indonesia Raya.
Karena air di bawah bendung cukup dalam, Camat sebagai inspektur upacara terpaksa duduk menggunakan ban sambil membawa mikrophone. Sedangkan pengibar bendera berada di dasar sungai yang airnya dangkal. Bendera tersebut diikat dengan tambang dan ditarik oleh petugas yang berada di atas tanggul sehingga perlahan bendera membentang dan berkibar megah di atas Kali Pusur diiringi kumandang lagu Indonesia Raya.
Peserta upacara selain berada di dasar sungai, juga berada di atas bendung, dan di tanggul sungai. Mereka menggunakan pakaian bernuansa merah putih.
“Memang kami sengaja menggunakan plastik karena selama ini sampah plastik paling dominan masuk ke dalam sungai. Total plastik yang kami siapkan untuk pembuatan bendera ini sebanyak 1926 lembar dengan berbagai macam ukuran,” ujar salah satu penggagas kegiatan, Agus Hartono.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, proses pengumpulan kantong plastik membutuhkan waktu kurang lebih 21 hari, dilakukan oleh masyarakat sekitar, komunitas bank sampah, komunitas peduli sungai dan beberapa lainnya. Sedangkan untuk proses pembuatan sendiri juga dilakukan oleh masyarakat dengan cara disetrika. Sehingga ribuan kantong plastik itu dipotong-potong dan dijadikan satu.
“Ini merupakan upaya kami untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan terutama sungai. Bahkan sungai itu juga harus merdeka, terbebas dari segala macam sampah,” pungkasnya.

telah dibaca: 40 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *