PNS di Klaten Temukan Alat Pengolah Sampah Plastik Jadi BBM

KLATEN – Berawal dari keterbatasan lahan untuk pembuangan sampah di kawasan perumahan, seorang PNS di Klaten membuat inovasi. Keterbatasan itu mendorongnya untuk merancang sebuah mesin pengolah sampah plastik.

Dia adalah R. Trisna Tirtana, 33, aparatur Sipil Negara (ASN) di Bagian Hukum Setda Klaten, yang tinggal di Perumahan Troso Baru, RW 008, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Klaten.

“Perumahan kami itu perumahan subsidi pemerintah dengan tipe hanya 36 dan 27 dengan luas tanah sekitar 60 meter persegi. Jadi, setiap rumah biasanya memaksimalkan pekarangan untuk bangunan. Nah, kesulitan kami adalah membuang sampah,” kata Trisna saat ditemui di Gedung Sunan Pandanaran, Kamis (2/11) sore.

Dibantu para tetangganya, pria lulusan Fakultas Hukum UGM itu mengembangkan alat pengolahan sampah menjadi berbagai bahan setara bahan bakar minyak (BBM) dan bahan alternatif pengganti pasir. Pengembangan mesin pengolah sampah bernama Nusantara itu berawal saat Trisna mendapat giliran jaga saban Kamis malam di pos ronda perumahannya. Dari hasil obrolan itu, dia mengambangkan mesin pengolah sampah menjadi berbagai cairan setara BBM.

Proses pengolahan itu dengan metode destilasi atau penyulingan. Sampah yang dibakar pada suhu tertentu menghasilkan uap dan berubah menjadi cairan. “Kebetulan tetangga saya ada yang tukang las. Saya sampaikan ada ide untuk membuat alat seperti ini. Kemudian saya dibantu tim dari warga mulai mengembangkan,” katanya.

Tak butuh waktu berbulan-bulan untuk mengembangkan mesin tersebut. Selama 14 hari, Trisna dibantu para tetangganya melakukan eksperimen pembuatan alat. Sebanyak tujuh kali uji coba dilakukan hingga ia dan timnya berhasil menciptakan alat sesuai ide awal. Ia lantas memperkenalkan mesin itu pada 3 September lalu.

Sebanyak 27 kg sampah plastik bisa menghasilkan 8 liter bahan setara solar, 5 liter bahan setara minyak tanah, 1,5 liter bahan setara premium, 0,5 liter bahan setara pertalite.

“Kami belum bisa menyebut itu bahan premium atau solar. Untuk mengecek kepastiannya perlu ada uji oktan. Namun, itu sudah diujicobakan pada sepeda motor dan mobil. Ternyata sampai sekarang kondisinya baik-baik saja. Hanya knalpotnya memang lebih berasap dan baunya seperti plastik,” katanya.

Trisna menjelaskan pembuatan peralatan itu ia lakukan menggunakan dana pribadi. Jika dinilai uang, satu unit mesin pengolah sampah seharga Rp15 juta. Saat ini masih menunggu proses pendaftaran paten.

Sumber

telah dibaca: 39 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *