Rahasia Soto Mbok Dele Disukai Tokoh Penting dari Pelukis Affandi hingga SO7

KLATEN — Siapa tak kenal Soto Mbok Dele di Jalan Jogja-Solo, Klaten KM 8,4. Soto legendaris Klaten yang pelanggannya tokoh-tokoh penting.

Di warung yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun itu, banyak tokoh-tokoh terkenal singgah sekadar menikmati semangkuk soto. Sebut saja pelukis asal Jogja, Affandi, dalang Ki Anom Suroto, Dono Warkop DKI, Didi Nini Thowok, Yati Pesek dan kawan-kawan Srimulat, Habib Syech, hingga pentolan band Sheila on 7, Eros Jarot dan Duta.

“Belum lama ini Eros dan Duta mampir sini pas mau konser di Semarang. Sini ramai banget banyak yang minta foto-foto. Saya sendiri malah enggak foto, malu,” ujar Supriyanto (40), pemilik warung soto yang melanjutkan usaha eyang buyutnya itu.

Selain tokoh, beberapa sopir Affandi kerap singgah ke warungnya untuk sekadar bernostalgia, berbincang dengannya. Bahkan, salah satu sopir itu rela bersepeda dari Jogja. “Dia sering ke sini. Yang terakhir ke sini saya temani mengobrol dua jam. Banyak tokoh-tokoh ke sini sekadar untuk bernostalgia jajan soto,” urai ayah tiga putra ini.

Rasa Gurih

Asap putih mengepul saat dandang aluminium berisi kuah soto dibuka. Aroma kaldu sapi menyeruak memenuhi seisi ruangan. Kuah disiramkan ke dalam mangkuk berisi nasi, irisan daging sapi kecambah, dan penyedap rasa.

Rasa gurih dan daging sapi yang empuk berpadu di mulut. Kesegaran soto semakin terasa saat ditambahkan air perasan jeruk nipis ditambah sejumput sambal.

“Soto kami memiliki kuah yang bening. Itu yang membedakan kami dengan yang lain,” ujar Supriyanto, saat ditemui di warungnya, Jl. Jogja Solo Km. 8,4 Dukuh Jetis, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, Rabu (22/11/2017).

Tak hanya itu, aneka lauk olahan sapi juga tersedia mulai dari iso babat, otak goreng, kapur susu sapi, aneka jeroan, dan daging sapi tersedia untuk mendampingi semangkuk soto. Semua sajian itu dibikin sendiri oleh keluarga Supriyanto yang mendapatkan estafet resep dari eyang buyutnya, Nyai Karto Wijaya.

“Otak goreng yang cuma ditemui di sini. Di tempat lain enggak ada termasuk kapur susu sapi,” beber pria, yang menjadi generasi keempat penerus Soto Mbok Dele.

Tak ada yang tahu kapan Soto Mbok Dele buka kali pertama. Yang ia tahu hanyalah eyang buyutnya yang kali pertama berjualan soto dalam trah keluarga besarnya.

Sejarah

Nama Mbok Dele pun terbentuk secara kebetulan. Saat itu, anak Nyai Karto Wijaya, Ngatinem, memiliki postur tubur kurus dan kecil. Ngatinem adalah eyang putri Supriyanto. Warga kemudian memanggil Ngatinem dengan sebutan Dele berasal dari ata kedelai yang bentuknya kecil mirip tubuh Ngatinem.

Setiap kali memesan soto kepada eyang buyutnya, orang-orang selalu menyebutkan, “Kana tuku soto neng Mbokne Dhele [Sana beli soto di Ibunya Dhele].” “Terus lama-lama orang tahunya sini soto Mbok Dele,” ujar pria yang melanjutkan usaha soto sejak Maret 1997.

Supriyanto butuh sembilan tahun hingga akhirnya dipercaya untuk meneruskan estafet resep soto legendaris Klaten itu. Kariernya membikin soto dimulai kali pertama saat kelas dua SMP pada 1988. Ia bertugas nguleg tiga kilogram bawang putih hingga lembut. Tak hanya menguleg, ia harus menggiling bawang itu agar terksturnya semakin lembut.

“Kalau enggak lembut, bawangnya justru banyak yang ting krampul [terapung],” beber dia.

Sumber

telah dibaca: 40 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *