Ratusan Warga Klaten Berburu Berkah Ketupat di Grebeg Syawal di Rowo Jombor Klaten

Pagi pukul 8.00 WIB, Minggu (2/7/2017), Slamet Legiman Setyo Purnomo, 51, tiba di Bukit Sidoguro, Dukuh Nglebak, Desa Krakitan, Bayat, Klaten. Ia menanti perayaan Grebeg Syawal untuk berebut ketupat yang bakal dibagikan pada pukul 10.00 WIB.

“Setiap tahun saya ke sini. Sekarang saya dari Semarang sengaja ingin mendapatkan ketupat,” ujar Slamet, sembari memegang empat ketupat dibungkus janur dan tiga ketupat siap santap dalam plastik mika bening.

Ia baru saja berebut ketupat bersama ratusan orang lainnya dalam Grebeg Syawal yang digelar Pemerintah Kabupaten Klaten di bukit itu. Slamet tak menampik di rumahnya juga banyak ketupat dan sayur opor khas Lebaran.

Ketupat yang ia dapatkan juga dimakan bersama-sama keluarganya. Hanya satu yang membedakannya ketupat dari grebeg dan di rumah, yakni keberkahan.

“Kalau bicara soal berkah kan tiap orang berbeda. Saya sendiri meyakini ketupat ini berbeda dibanding ketupat lainnya karena berkah,” tutur dia dengan keringat masih mengucur di lehernya yang legam.

Pemburu berkah lainnya, Painem, 58, warga Desa Batilan, Bayat, mengutarakan hal senada. Ada berkah yang ingin didapatkan Painem dari ketupat Grebeg Syawal, supaya panjang umur.

“Kupat ini nanti saya makan di rumah bersama keluarga. Ini ada berkahnya supaya panjang umur,” ujar perempuan yang rambutnya sudah memutih itu.

Setiap tahun, Slamet, Painem, dan ribuan orang lainnya datang ke Bukit Sidoguro untuk ngalap berkah dari ketupat Lebaran. Perburuan berkah itu hanya berlangsung sekitar 10 menit. Seusai pembacaan doa dan sambutan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Klaten, Sri Mulyani, ratusan pengunjung berkerumun memperebutkan ketupat dari 13 gunungan ketupat dan aneka hasil bumi seperti terung, kacang panjang, jagung, dan lainnya.

Sejumlah personel kepolisian berjaga-jaga di sekeliling arena grebeg. Di panggung, biduan menyanyikan tembang berbahasa Jawa diiringi musik campursari.

Gunungan-gunungan itu berasal dari BRI Cabang klaten, RSUP Soeradji Tirtonegoro, PDAM Klaten, Bank Jateng,Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten, BPR Bank Klaten, Toko Amigo Klaten, Perusda Aneka Usaha Klaten, BKK Klaten, hingga Bupati Klaten.

Kepala Disbudparpora, Joko Wiyono, mengatakan panitia menyiapkan 4.000 bungkus ketupat siap saji. Grebeg itu merupakan agenda rutin Pemkab untuk menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat kepada tradisi leluhur.

“Kegiatan ini menjadi salah satu upaya melestarikan tradisi luhur budaya agar masyarakat memiliki rasa handarbeni,” ujar Wiyono dalam sambutannya.

Plt. Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan Ramadan mengantarkan umat Islam menuju kesalehan pribadi menjadi kesalehan sosial. Takwa kemudian diwujudkan dengan menjadi orang-orang yang banyak memberi manfaat bagi orang lain.

“Ketupat juga mengandung makna ngaku lepat atau mengaku salah. Sifat saling memaafkan merupakan warisan leluhur bangsa indonesia. Saya mengajak seluruh umat islam membuka pintu maaf, menjauhkan sifat iri dan dengki,” kata Mulyani, dalam sambutannya.

Perempuan yang mengenakan baju motif loreng harimau itu mengajak umat Islam untuk meningkatkan kedermawanan dan sabar sebagai perekat persaudaraan. Umat Islam harus menjaga persatuan dan menjalin kuat tali ukhuwah.

“Jangan saling bertengkar. Umat muslim seperti pohon rindang, teduh, dan memberi manfaat kepada umat lain,” harap dia.

Ia tak sendirian. Dari Semarang dia bersama anak dan istrinya ke bukit yang dikenal warga dengan sebutan Bukit Turis itu. Di Klaten, ia tinggal di rumahnya di Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo.

 

telah dibaca: 23 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *