Ribuan Warga Padati Klaten Lurik Carnival

KLATEN  – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten dalam hal ini Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraha (Disbudparpora) menggelar Klaten Lurik Carnival (KLC) disepanjang  Jalan Veteran – Jalan Pemuda, diikuti oleh 37 kontingen, Rabu(19/8). Selain diadakan untuk memperingati HUT RI ke-70, KLC sengaja digelar untuk mengangkat kembali lurik yang selama ini menjadi ciri khas Kabupaten Klaten.

Sebanyak 37 kontingen dari 26 kecamatan dan bebrapa SKPD ikut serta dalam kegiatan yang baru pertama kali digelar di Klaten ini, kata Kepala Disbudparpora Klaten, Joko Wiyono.

Lebih lanjut Joko Wiyono mengatakan bahwa peserta yang tampil nantinya akan dinilai berdasarkan perpaduan gaya lurik, keluwesan, aerogonomis dan desain pakaian lurik yang dipakai.

Dengan diadakannya kegiatan kolosal ini, imbuh Joko, diharapkan warga masyarakat tertarik untuk menggunakan lurik dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus untuk melestarikan kain tenun lurik asli Klaten.

Lurik merupakan kain khas Klaten, jadi harus dilestarikan. Kalau bukan dari diri kita sendiri, siapa lagi yang akan melestarikan tinggalan nenek moyang, urai Joko.

Terpisah, Bupati Klaten Sunarna yang ikut dalam arak-arakan menunggang kereta kencana, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengatakan tujuan acara tersebut adalah menggerakkan ekonomi rakyat, terutama mereka yang bergerak di bidang kerajinan lurik.

“Ini adalah salah satu upaya kita untuk memberdayakan perajin lurik yang ada di Klaten. Dengan ini harapannya bisa mengangkat sekaligus memromosikan lurik, sehingga banyak wisatawan datang dan memborong kerajinan ini,” jelasnya Sunarna.

Sementara itu ribuan warga sudah berkumpul di Jl Veteran hingga Jl Pemuda Tengah Klaten sejak pukul 13.30 Wib. Kedatangan warga dari berbagai wilayah di Klaten ini tak lain untuk menyaksikan karnaval rutin yang digelar setahun sekali tiap bulan Agustus. Dan untuk karnaval hari kedua ini, Pemkab Klaten mengambil tema KLC.

Saya baru tahu dan baru melihat lurik bisa dikreasikan menjadi pakaian seindah itu. Karena dulu, lurik hanya dipakai oleh petani, kata Sudirman (64) warga Kecamatan Karanganom yang datang bersama cucunya.

Galeri foto:

 

telah dibaca: 687 kali

Bagikan melalui:

Comments are closed