Watu Sepur: Batu Panjang Menyerupai Sepur

Klaten – Watu Sepur menyajikan pemandangan deretan bebatuan purba menyerupai ombak di Dukuh Bogoran, Desa Jotangan, Bayat, Klaten. Bentuknya panjang sekitar 100 meter membuat daerah itu dinamai Watu Sepur.

Bebatuan itu sama tuanya dengan batu di desa sekitarnya seperti di Desa Kebon dan Desa Gununggajah. Di Watu Sepur, batu itu berada di puncak bukit yang tak lebih tinggi dari Bukit Cinta di Gununggajah maupun Bukit Pertapan di Desa Kebon.

Pengunjung cukup berjalan kaki menanjak menyusuri jalan setapak berbatu dipenuhi serasah sejauh 150 meter dari lokasi parkir. Pendakian singkat itu akan ditemani suara gesekan daun bambu di tengah-tengah teduhnya hutan mahoni.

Jika merasa lelah, pengunjung bisa rehat sejenak di gazebo-gazebo bambu beratap seperti daun alang-alang kering. Jika tak puas, hamparan hammock- hammock yang digantung di antara pepohonan siap melemaskan otot punggung yang kaku. Di kawasan itu juga menyediakan musala, beberapa warung hingga fasilitas MCK serta sebuah arena untuk belajar panahan.

”Di sana, ada sedikit tanah lapang yang dikelilingi pohon mahoni. Lokasi itu sering dipakai untuk camping, seminar, reuni, pertemuan, hingga tadabur alam,” terang pengelola objek wisata Watu Sepur, Supriyanto, 45, saat ditemui Solopos.com di Dukuh Bogoran, Desa Jotangan, Bayat, Klaten, Selasa (11/9/2018).

Watu Sepur sebetulnya tanah perorangan yang disewa oleh Kelompok Sadar Wisata Dukuh Bogoran. Ada delapan petak (satu petak sekitar 800 meter persegi) yang disewa Rp500.000 per petak per tahun untuk mengembangkan wisata alam. Ide mengelola bukit itu berhasil menyatukan semangat 40 warga setempat gotong-royong bangun infrastruktur pendukungnya.

Mereka beriuran untuk membangun jalan beton, bikin gapura, dan fasilitas lainnya. Dana lainnya bersumber dari penjualan tiket Rp2.000 per orang. Sejak dibuka Januari lalu, Watu Sepur biasa dikunjungi rata-rata 100 orang per hari. Jumlah itu meningkat hingga 300 orang saat liburan, akhir pekan dan hari besar lainnya. Pendapatannya sebulan bervariasi Rp3 juta hingga Rp8 juta.

”Tak serupiah pun dana dari pemerintah desa ke sini. Semua ini swadaya, tenaganya kami sendiri. Mungkin sudah ratusan juta rupiah kami gunakan untuk pengembangan kawasan ini,” imbuh dia.

Kendati omzetnya terbilang kecil, pengelola Watu Sepur tak abai manfaat sosial kemasyarakatan atas keberadaannya. Di Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, yang memiliki omzet miliaran rupiah berhasil membayar jaminan kesehatan warga, memberikan santuan warga lansia, memberikan beasiswa, serta menggulirkan program satu keluarga satu sarjana.

Sedangkan, di Watu Sepur, setiap bulan menyisihkan Rp300.000 untuk santuan kepada anak yatim, janda, hingga keluarga tak mampu lainnya di desa setempat. Santunan mulai diberikan sejak kali pertama wisata dibuka Januari lalu. Santunan itu diberikan untuk memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar Watu Sepur. ”Istilahnya CSR-nya Watu Sepur. Kalau makin ramai, ya makin besar [santunan] yang kami berikan,” terang Supriyanto.

Salah satu pengunjung, Devi Indah Sari, 20, asal Kelurahan Mojayan, Klaten Tengah, mengatakan dua kali ia ke Watu Sepur, namun kesulitan memahami bagaimana sesungguhnya Watu Sepur yang dimaksud. Ia hanya melihat deretan batu dan papan nama Watu Sepur.

”Suasananya lumayan untuk foto-foto termasuk banyak penambahan fasilitas di sini. Tapi, saya ingin tahu Watu Sepur itu apa sih? Mungkin bisa disediakan semacam papan informasi atau guide untuk memberikan pemahaman lebih kepada pengunjung,” kata dia.

Sumber Solopos.com

telah dibaca: 15 kali

Comments are closed.