Dea Nadira Penyiar RSPD Klaten : Siaran Harus Tetap Happy, Biar pun Habis Berantem dengan Suami

KLATEN- Zaman now menjadi seorang penyiar radio bisa jadi sebuah profesi yang langka dan sepi peminat. Tapi bagi seorang Yunita Kuswarjanti Murtiningsih atau lebih dikenal dengan Dea Nadira, salah satu penyiar Radio Siaran Publik Daerah alias RSPD Klaten, kecintaannya kepada profesi tetap dilakoni dengan tulus ikhlas demi membahagiakan dan menghibur komunitas pendengarnya.
Yunita yang kini tinggal di Desa Ngaran, Polanharjo Klaten mengaku mencintai dunia broadcasting sejak masih SMA. Bahkan ia sempat menjadi penyiar junior di Radio Candi Sewu sejak 1996 sampai 2010 sebelum hijrah menjadi penyiar senior di RSPD Klaten.
“Kalau pulang sekolah saya sudah kerja sebagai penyiar radio. Waktu itu dibayar 2.500 tiap siaran. Jadi saya siap jadi penyiar pocokan atau pengganti terutama jam siar sore atau malam. Sejak remaja saya sudah bisa cari uang sendiri, lumayan bisa buat bayar SPP” cerita perempuan tiga anak kepada Tim Pemberitaan Dinas Kominfo Klaten mengenang masa remajanya sebagai penyiar radio.
Wanita kelahiran Klaten, 23 Juni 1979 dan menikah dengan Imung itu mengatakan telah melalang buana menjadi penyiar sampai luar kota. Tahun 2011 pernah menjadi penyiar Radio Prima FM di Solo Baru. Tidak betah di Prima FM, wanita yang juga gemar menggeluti dunia Master of Ceremony atau MC ini pindah ke Radio Merapi FM Boyolali sebelum pulang kandang ke RSPD Klaten sekitar 2014.
Disinggung kategori penyiar yang baik, Dea Nadira yang telah mengantongi sertifikasi penyiar tingkat menengah dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Jawa Tengah itu mengatakan tidak cukup bermodal suara bagus untuk menjadi penyiar yang profesional.
“Ada tiga standar yang harus dimiliki seorang penyiar sebagai kompetensi dasar. Standar itu adalah mampu berimprovisasi menyampaikan pesan yang mudah dipahami pendengar, mampu mengopersionalkan peralatan studio, dan mampu membangun emosi imajiner. Radio itu menyampaikan pesan suara. Penyiar harus bisa menjadi komunikator yang baik. Jangan pernah bermimpi menjadi penyiar yang baik, kalau masih bermasalah dengan dirinya sendiri ketika berbicara di depan mic siaran” jelasnya.
Dea menekankan agar penyiar itu pandai membangun interaksi yang baik sehingga pendengar itu menjadi lebih dekat. Selain itu penyiar harus bisa menjadi pembaca berita yang baik. Maka penyiar harus bisa menguasai diri. Misalnya seorang penyiar sedang bete, kata wanita yang juga mengembangkan budidaya ikan gurameh di Ngaran, Polanharjo itu menekankan agar rasa sedih itu tidak terbaca oleh pendengar.
“Penyiar harus tetap ceria di dalam studio ketika siaran, biar pun habis berantem dengan suami atau dimarahi mertua. Berta memang, tapi emosi itu harus bisa dikuasi kalau pengin jadi penyiar yang profesional” pesannya menutup perbincangan dengan Tim Pemberitaan Dinas Kominfo Klaten pekan lalu.

Baca Juga:  Makin Keren, Kinerja Pengawasan Kearsipan Klaten Nomor Tujuh Terbaik Nasional

Penulis Joko Priyono Dinas Kominfo Klaten

telah dibaca: 99 kali

Comments are closed.