Dewi Sri Sampai Dewi Minapolitan Ramaikan Klaten Lurik Carnival

KLATEN- Warga menyemut di sepanjang jalan protokol Kota Klaten. Ajang Klaten Lurik Carnival (KLC) yang hanya setahun sekali digelar itu tidak disia-siakan warga menyaksikan lenggak-lenggok peserta mengenakan busana lurik berwarna warni sambil menari mengusung tema Klaten Kota Bunga Sejuta Warna (sabtu,3/08).
Siang yang terik tak menyurutkan warga menunggu 40 kontestan melintas di jalan, meskipun harus panas dan berkeluh. Karpet merah sepanjang 50 meter persis di depan panggung kehormatan tempat Bupati Klaten Sri Mulyani,jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda),pejabat,dan sejumlah tamu mancanegara menjadi titik perhatian ribuan pasang mata. Para kontestan yang terdiri 20 sampai 30 peserta itu beraksi di atas karpet merah mengusung tema daerah atau misi dalam kemasan cerita daerah.
Kontestan Kecamatan Kemalang mengusung lakon Dewi Sri,lambang padi dan kemakmuran. Kecamatan Bayat membawakan cerita An de An de Lumut dan Prambanan mengangkat tema Roro Jonggrang. Sedangkan Polanharjo yang kaya ikan dan wisata air mengambil tema Dewi Minapolitan. Potensi lurik dalam konsep Klaten Kota Bunga Sejuta Warna terpadu dalam tari dan musik itu menjadi kiat Pemkab Klaten meneguhkan menjadi Kabupaten Lurik dengan konsep penataan taman taman kota bunga.
“Melalui KLC ini Pemkab Klaten ingin membuat branding kalau Klaten adalah Kabupaten Lurik. Sentra lurik seperti Pedan, Cawas,Trucuk, Bayat, Karangdowo,Juwiring adalah penghasil lurik yang menggerakkan ekonomi dengan menyumbang tenaga kerja yang tidak sedikit.Hal ini yang ingin kita jaga . Termasuk monumen lurik di tengah Kota Klaten agar masyarakat luar tahu telah memasuki Kabupaten Lurik,” jelas Kepala Dinas Komunikasi Informatika Klaten Amin Mustafa.
Ditambahkan saat ini ASN Klaten setiap Kamis wajib mengenakan lurik di jam kerja hampir 12 tahun terakhir. Klaten yang daerah perlintasan ketika lewat,jangan lupa untuk singgah mendapatkan kain lurik di sepanjang jalan Yogya Solo. Atau mampir di Showroom Dekranasda untuk belanja lurik dan hasil potensi unggulan lain seperti handycraft,makanan khas Klaten,atau batik.

Hiburan Rakyat
KLC yang ditunggu tunggu ribuan warga benar benar menjadi hiburan masyarakat. Dyah (60) warga Mlinjon,Tonggalan, Klaten rela berdesakan untuk menyenangkan cucunya.
“Saya nonton karnaval lurik bersama anak dan cucu. Semua kontestan bagus. Lebih bagus ketika semua kontestan bisa beraksi di sepanjang jalan sehingga lebih atraktif dan menghibur,” jelasnya.
Tidak saja menghibur,ajang KLC juga dimanfaatkan masyarakat berfoto dengan peserta khususnya anak anak.
,”Tadi sudah janjian dengan teman untuk nonton KLC habis sekolah. Senang bisa foto bersama para penari dengan baju yang lucu dan unik bercorak lurik. Kalau acara karnaval bisa dilaksanakan di waktu liburan sekolah,pasti lebih ramai,” kata Lutfi bocah 11 tahun menuturkan bersama tiga rekannya yang lain

KLC (5)
KLC (6)
KLC (3)
KLC

telah dibaca: 42 kali

Comments are closed.