Festival Mbok Sri Mulih: Nguri-Uri Petani

Festival Mbok Sri Mulih (FMSM) ke-3 diselenggarakan oleh Sanggar Rojolele, bekerja sama dengan Spektakel ID, pada tanggal 20-22 September 2019 di Dusun Kaibon, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Bukan sekadar gebyar budaya tani, FMSM yang melibatkan secara aktif warga lokal dalam persiapan dan penyelenggaraannya, adalah salah satu cara untuk mewujudkan sebuah gagasan besar berkelanjutan penguatan petani dan pertanian di Delanggu.

Nguri-nguri secara harfiah menggambarkan kegiatan petani ketika sedang menabur benih di awal masa menanam. Dengan kata lain, nguri-nguri merupakan proses merawat, menumbuhkan atau membudidayakan suatu hal. Nguri-nguri petani Delanggu menjadi penting ketika semakin hari jumlah petani semakin sedikit, beriring alih fungsi lahan dan menurunnya pamor profesi petani sebagai pekerjaan yang secara ekonomi mesti dipertahankan.

 

Pertanian Delanggu pernah mengalami puncak ketenarannya lewat varian benih beras Rojolele. Beras pulen wangi ini dapat tumbuh dengan kualitas maksimal di daerah Delanggu dan sekitarnya konon berkat limpahan kualitas tanah dan air tanah yang mengalir dari lereng Merapi. Sisa-sisa ketenaran itu masih dapat dilihat di karung-karung beras bercap “Beras Delanggu” dengan isi yang sulit dijamin asli dari Delanggu. Namun, kejadian tersebut mengisyaratkan dua hal: beras dari daerah lain mendompleng nama baik beras Delanggu atau beras dari Delanggu sudah tidak memenuhi kualitas “Beras Delanggu” lagi sehingga perlu digantikan dengan beras dari daerah lain. Penyebabnya ada banyak, mulai dari faktor ekologi, ekonomi hingga sosial budaya. Jalur festival seni budaya dipilih untuk mewujudkan gagasan penguatan petani dan pertanian Delanggu. Eksan Hartanto, pendiri Sanggar Rojolele dan penggagas FMSM, mengatakan, “Festival ini adalah kendaraan Sanggar Rojolele untuk mencapai visi dan misinya, yaitu kedaulatan petani Delanggu. Anggap saja festival ini adalah sebuah project besar yang kami tawarkan kepada warga untuk digarap bersama-sama; sebuah ajang untuk menguatkan nilai nilai guyub rukun khas masyarakat pertanian yang semakin kemari cenderung luntur. Ketika semakin guyub dan rukun, semoga kami, para petani, bisa bergerak bersama untuk memperbaiki
nasib kami.”

Dimas Jayasrana, pendiri Spektakel ID, yang membantu penguatan visi dan misi FMSM mengatakan, “Ketika kita berbicara tentang nilai seni dan budaya, kita harus mulai secara intrinsik: bagaimana seni dan budaya menerangi kehidupan batin, serta memperkaya dunia emosional. Dalam hal ini, FMSM ingin menunjukkan manfaat seni budaya pada kesejahteraan sosial, kesehatan fisik dan mental, sistem pendidikan, status nasional dan ekonomi dalam konteks agraris.”
“Hal tersebut bisa digapai dengan kerja-kerja riset dan observasi yang terus diperbaharui mengikuti dinamika masyarakat. Programasi yang dibangun tidak sekadar menampilkan pertunjukan (dalam artian luas) yang berjarak dengan (calon) pengunjung atau bahkan masyarakat sekitarnya. Lebih jauh lagi, pertanyaan yang harus dimunculkan adalah: untuk siapa
festival ini dibuat?” lanjutnya.

 

Di edisi ketiganya, FMSM berkomitmen mendorong peningkatan partisipasi warga dalam persiapan dan penyelenggaraannya, mulai dari konsepsi program, kepanitiaan yang melibatkan warga secara lebih luas, instalasi dan dekorasi hingga dapur umum. Programasi pun menitikberatkan pada kebutuhan masyarakat lokal sebagai subjek sekaligus objek dari festival ini. Hal tersebut dapat dilihat dalam program-program acara FMSM tahun ini yang banyak melibatkan masyarakat Desa Delanggu. Beberapa di antaranya: Jagongan Tani, yaitu diskusi pertanian bertema koperasi bersama aktivis dan pelaku koperasi, Suroto Ph, dan yang akan diikuti oleh kelompok-kelompok tani Desa Delanggu. Pasar Desa yang mengangkat potensi hasil bumi dan kriya lokal, juga kuliner tradisional, diikuti oleh masyarakat tani dan pengusaha UMKM dari Delanggu. Kirab budaya dan upacara wiwitan, upaya menghidupkan kembali ritual kuno sarat makna yang sudah mulai ditinggalkan dan yang keseluruhan detail dan propertinya dikerjakan bersama oleh warga. Program kuliner Dapur Simbok, diampu oleh simbah-simbah yang sambil memasak akan
bercerita tentang makna di balik sebuah masakan tradisi. Program Layar Tancep, memutarkan film-film bertema relevan yang salah duanya adalah film dokumenter perdanan karya pemuda Delanggu tentang desa mereka. Tur Jelajah Delanggu, diorganisir dan dibawakan oleh warga yang akan bercerita tentang sejarah Desa Delanggu. Pertunjukan ketoprak humor yang sepenuhnya ditulis, disutradarai, dan dimainkan oleh masyarakat lokal.

 

Atas inisiatif warga, project ini melahirkan grup ketoprak bernama Sri Kuncoro Budoyo. Sebagai pergerakan yang inisiatifnya datang dari akar rumput, FMSM tentu sulit untuk mewujudkan impiannya jika berjalan sendiri. Terkait hal tersebut, Eksan Hartanto mengungkapkan harapannya, “Dukungan paling krusial tentunya adalah kebijakan dari pemerintah pusat hingga lokal desa yang menyokong keberlangsungan serta pengembangan pertanian secara menyeluruh. Festival ini merupakan media untuk mengkomunikasikan hal tersebut, yaitu mendorong munculnya kebijakan yang bottom-up sehingga relevan dan koheren
dengan kebutuhan masyarakat.”

telah dibaca: 115 kali

Comments are closed.