Hasil Surve Sungai Dengkeng, Ada Beberapa Yang Perlu Perbaikan

KLATEN – Berdasarkan hasil susur sungai yang dilakukan puluhan peserta dari berbagai unsur seperti sukarelawan kebencanaan, komunitas peduli sungai, TNI, Polri, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), serta perguruan tinggi selama dua hari yakni Kamis-Jumat (21/12/2017-22/12/2017) ada sebanyak 67 titik tanggul di sepanjang Sungai Dengkeng di Kabupaten Kklaten kritis. Pembenahan mendesak dilakukan agar kerusakan tak semakin parah.

Para peserta terbagi dalam empat kelompok dengan pembagian kelompok 1 Sungai Dengkeng mulai dari Pasar Kepoh, Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno-Desa Melikan, Kecamatan Wedi. Kelompok 2 Sungai Dengkeng dari Desa Melikan, Kecamatan Wedi-Desa Jotangan, Kecamatan Bayat. Kelompok 3 Sungai Dengkeng dari Desa Jotangan, Kecamatan Bayat hingga Desa Balak, Kecamatan Cawas, serta kelompok 4 Sungai Dengkeng dari Desa Japanan, Kecamatan Cawas hingga Desa Serenan, Kecamatan Juwiring.

Hasil pendataan, sekitar 67 titik tanggul atau sepanjang 4.525 meter tanggul mengalami kritis dari sepanjang 35 km Sungai Dengkeng yang disusur. Kondisi kritis itu seperti tanggul sungai yang longsor, jebol, hingga terkikis.

“Hasilnya akan kami serahkan ke BBWSBS dan pemerintah daerah karena di sana [Sungai Dengkeng] kewenangan berada di BBWSBS, kami minta bisa ditindaklanjuti BBWSBS,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Sawaldi, saat ditemui di Pemkab Klaten pekan lalu.

Ketua Komisi III DPRD Klaten, Darto, menjelaskan sudah ada komunikasi dengan BBWSBS terkait kondisi Sungai Dengkeng. “Dari BBWSBS sendiri sudah siap untuk menormalisasi dan juga membenahi tanggul jebol,” katanya saat dihubungi, Senin (1/1/2017).

Darto menjelaskan upaya agar ada penanganan hingga tak terjadi lagi luapan sungai di wilayah sepanjang Sungai Dengkeng sudah dilakukan. Ia menuturkan penanganan permanen menjadi kewenangan pemerintah pusat. “Untuk penanganan saat ini ya penanganan-penanganan darurat dulu dari berbagai unsur agar kerusakannya tidak semakin parah,” urai dia.

Kepala BBWSBS, Charisal A. Manu, mengapresiasi susur Sungai Dengkeng yang dilakukan berbagai unsur. Ia menilai kegiatan itu menunjukkan ada kepedulian warga untuk mewujudkan nilai gotong royong.

Terkait hasil susur sungai, perlu ada klasifikasi terkait kondisi tanggul seperti tanggul alam, buatan, tebing, dan sebagainya termasuk pendangkalan alur sungai.

“Untuk penanganan akan disusun dalam skala prioritas dikaitkan dengan dana yang tersedia. Ada 96 sungai besar dan ribuan anak sungai di wilayah kerja BBWSBS. Sedangkan sungai induk Bengawan Solo mempunyai panjang 617 km atau dua pertiga panjang Pulau Jawa. Belum separuh dilakukan perencanaan dan penanganan. Jadi, solusinya adalah bersama-sama untuk melakukan penanganan atas tanggul kritis,” katanya.

telah dibaca: 15 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *