In Memorium Arif Fuad Hidayat, Dari Jurnalis Bloomberg Kini Jadi Aktifis Sungai

 

KLATEN – Wafatnya seorang pahlawan sungai Arief Fuad Hidayat (Minggu, 20/06/21) pukul 04.30 WIB dini hari menyentak banyak publik. Tokoh yang dikenal penggiat sungai itu meninggal di usia muda, 40 tahun. Tapi umurnya yang pendek, tidak membatasi visi dan cita-citanya untuk melestarikan dan memuliakan sungai dari kerusakan tangan-tangan manusia modern saat ini.
Tiga bulan sebelum meninggal, tepatnya (Rabu 20/03/21), penulis berita Dinas Kominfo, Joko Priyono sempat berdialog dengan seorang Arief Fuad Hidayat ketika sosok berbodi tambun itu mendapatkan penghargaan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional yang dikepalai seorang Doni Monardo atas kiprahnya dalam gerakan sungai di Klaten.
Berikut perbincangan penulis dengan almarhum terkait kiprahnya menjadi aktifis sungai, tiga bulan sebelum beliau wafat.

Sebelum menjadfi aktifis sungai, dulu kegiatannya apa mas?

Dulu saya 15 tahun menjadi wartawan, menulis berita seperti jenengan. Beberapa media nasional pernah saya ikuti termasuk media internasional seperti Bloomberg dan Astro. Saya pernah melalang Indonesia. Termasuk mewawancara seorang Iman Samodra yang terkait Bom Bali. Waktu itu saya wawancara di penjara.

Baca Juga:  Masa Pendaftaran CPNS dan PPPK Klaten Diperpanjang

Enak kan jadi wartawan, mengapa harus menjadi aktifis sungai?

Rumah bapak saya jadi korban gempa 2006. Waktu itu saya berpikir bencana begitu banyak korban, maka muncul dalam benak saya bagaimana bencana itu tidak harus menelan banyak korban. Lalu saya membangun jejaring baik birokrasi, TNI/Polri dan relawan untuk bergotong – royong kembali mengembalikan fungsi alam terutama sungai. Klaten sendiri daerah rawan bencana.

Tidak ingin menjadi pemain politik mas, jenengan kan tenar?

Saya memilih ingin di tengah-tengah masyarakat. Saya tidak ingin tergoda politik.

Apa kata kunci bisa menggerakan masyarakat begitu luas?

Semangat gotong royong atau pentahelik warga Klaten itu luar biasa. Baginya hal ini kekuatan yang harus dijaga. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri mengatasi permasalah an sungai dan bencana. Ini nama social capital yang harus dijaga.

Pesan-pesan penting apa mas untuk kebelanjutan gerakan sungai?

Menjamur nya kelompok-kelompok relawan itu perlu dirangkul. Hal ini adalah social capital yang dimiliki Kabupaten Klaten agar wilayah ini menjadi daerah tangguh bencana. Anggaran saja tidak cukup bagi pemerintah membangun kepedulian. Masyarakat itu sendiri harus dijadikan subyek dalam merawat kebencanaan

Baca Juga:  Jelang Penutupan, Pendaftar CPNS Klaten Menembus 3.176 Pelamar

Apa filosofinya membangun itu dimulai dari sungai?

Nenek moyang kita dulu sangat beradab memberlakukan sungai. Kondisi dan semangat memuliakan sungai itu harus dipulihkan di masa kini. Sungai harus dikembalikan pada hakekatnya. Sungai adalah sahabat irigasi untuk menopang pertanian. Sungai itu indah untuk anak- anak bermain dan harus bisa menjadi sumber manfaat baik secara ekonomi atau meningkatkan kualitas gizi keluarga. Tuhan menciptakan bumi secara sempurna. Bahkan Tuhan menggambarkan keindahan surga dengan keberadaan sungai-sungai yang mengalir. Jadi jangan salah kan alam jika kemudian bumi marah dengan banjir, gempa atau tanah longsor. Kesalahan dan keserakahan manusia saja yang menyebabkan bumi rusak sehingga marah. Maka kembali bumi pada Marwah nya. Rawat sungai, jangan dirusak biarpun hanya sekedar tidak membuang sampah atau puntung rokok ke sungai.

Penulis Joko Priyono Dinas Kominfo Klaten.

telah dibaca: 161 kali

Comments are closed.