Kisah Ustad Girpasang, Dari Gondola Macet Sampai Diserang Kera Hutan

KLATEN – Perjuangan dakwah seorang Ustad Asnan Sutanto menyampaikan ajaran islam di Girpasang, Tegalmulyo, Kemalang, Klaten selalu menarik untuk diikuti. Bukan saja kisah unik warga Girpasang yang ssedang semangat mendalami agama, tapi setiap jejak langkah Ustad Asnan untuk sampai ke dukuh Girpasang meninggalkan kisah menarik.

Didampingi sang istri setia, Marmi yang selalu menemani aktifitasnya mengajarkan agama kepada warga terpencil itu, Ustad asnan memulai kisah seperti dituturkan kepada Tim Pemberitaan Dinas Kominfo Klaten pekan lalu. Setiap hari selama Ramadhan, ia bersama istri harus mulai start jam 15.00 WIB dari rumahnya di Dusun Jamuran, Tegalmulyo, Kemalang, Klaten.

“Saya dan istri harus mulai berangkat sejak jam tiga sore setiap Senin dan Jumat. Karena sebelum magrib ada pengajian untuk belajar sholat dan iqro yakni belajar membaca al quran bagi anak – anak dan remaja. Baru setelah itu buka puasa dan magrib berjamaah. Selain hari itu (Senin dan Jumat) kami berangkat setelah magrib untuk kegiatan sholat isya, tawawih dan pengajian singkat. Kami pulang sekitar jam sepuluh malam” tuturnya.

Baca Juga:  Kapasitas Tempat Tidur Pasien Covid 19 di Klaten Sudah 99%

Cerita menariknya dikisahkan Ustad Asnan terjadi waktu pulang dari Girpasang. Persisnya ketika gondolanya itu macet atau petugas jaga sudah tidak ada. Terpaksa ia dan istri harus jalan kaki menapaki tangga jalan setapak dan menembus gelapnya malam.
“Reportnya itu pas kalau gondola rusak dan petugas operatornya sudah pulang. Kami terpaksa pulang harus jalan kaki. Pernah juga kami diserang kera hutan. Untuk bisa melanjutkan perjalanan, kami harus mengusir dulu beberapa kera yang menghalangi jalan” kisahnya.

Tapi melihat semangat belajar agama warga Girpasang menurut Ustad Asnan menjadi penyemangat tersendiri. Bahkan warga sudah menunggu kedatangaanya sebelum kegiatan mengaji dimulai. Ada yang membersihkan masjid, merapikan peralatan sholat sampai mengulang pelajaran tempo lalu..

“Di sini pemahaman agama masih minim sekali. Niat sholat saja masyarakat belum tahu. Maka yang kami ajarkan adalah cara wudhu dan sholat yang benar dulu. Ada kejadian bapak itu karena semangat nya mengaji dari sawah sekonyong-konyong langsung masuk ke masjid. Saya tidak menegur karena mungkin belum tahu. Alhamdulillah semua warga mau mengaji. Hanya dua warga yang belum bergabung” ujarnya.

Baca Juga:  Zona Merah : Sri Mulyani Ajak TP PKK Tuntaskan Covid-19 di Klaten

Dusun Girpasang adalah pemukiman terpencil yang hanya berjarak 4,5 km dari puncak Merapi. Dusun ini hanya dihuni 12 kepala keluarga dan 34 warga. Kini Girpasang sedang booming menjadi destinasi wisata baru di Klaten. Wisatawan rela berjalan menempuh perjalanan terjal untuk menikmati pesona Merapi, ngopi atau merasakan sensasi melintasi jurang Girpasang dengan kereta gantung.

Penulis Joko Priyono Dinas Kominfo Klaten

telah dibaca: 72 kali

Comments are closed.