Pensiunan Tri Tunggal, Sukses Bisnis Percetakan Berbasis Marketing Sedekah

KLATEN – Kala bertugas sebagai abdi negara, sosok pria yang satu ini sangat dikenal di kalangan PNS di Kabupaten Klaten. Gayanya bicaranya yang ceplas-ceplos dan gemar humor itu menyebabkannya mudah dikenal dan diterima banyak kalangan. Selain piawai dalam olah suara khususnya lagu campursari, dulu PNS yang satu ini juga dikenal sebagai Master of Ceremony (MC) cukup diperhitungkan di awal 2000-an.
Tapi suratan takdir bicara lain. Pria bernama Tri Tunggal (54) yang kini tinggal di dukuh Pelemsari, Jemawan, Jatinom, Klaten ini memilih banting setir meninggal dunia birokrasi yang 20 tahun digelutinya termasuk MC dan nyanyi yang pernah membesarkan namanya. Kini ayah tiga anak itu memilih menekuni dunia percetakan dan mendirikan usaha berlebel CV Sukses Mandiri.

Dari tahun ke tahun usahanya terus berkembang pesat. Berawal dari usaha dengan 4 sampai 6 karyawan, kini usahanya mampu menyerap 20 karyawan yang kebanyakan dari warga sekitar.
“Terhitung 1 Mei 2018 saya memilih pensiun dini. Bukan apa-apa, karena saya ingin fokus di usaha percetakan. Waktu itu usaha Sukses Mandiri terus berkembang. Kami banyak memperkerjakan warga sekitar. Alhamdulillah biar pun dilanda pandemi, usaha kami masih bisa bertahan bahkan bisa melayani pelanggan luar kota sampai Kalimantan dan Sulawesi” tuturnya saat ditemui Tim Pemberitaan Dinas Kominfo Klaten (Selasa, 24/08/21).

Baca Juga:  Penghapusan Sanksi Denda PBB Diperpanjang Hingga 31 Desember 2021

Bercerita awal membangun usaha, suami dari Siti Muhmudah itu mengaku didorong oleh pengalaman sang istri yang cebolan karyawan percetakan terkenal di Klaten. Lalu bermodal menggadaikan SK dan sertifikat, Tunggal, demikian dia akrab disapa mengaku nekad mengambil pembiayaan ke bank.
“Tahun 2008 saya merintis usaha percetakan bersama istri. Kebetulan istri sangat pengalaman dunia percetakan khususnya dari sisi manajemen. Saya mengambil pembiayaan 200 juta waktu itu mengadaikan SK dan sertifikat tanah. Kini omzet penjualan per bulan rata-rata 500 juta. Pelanggan kami tidak saja Klaten, mulai Surakarta, Yogyakarta, Cilacap, Kabupaten di pantura bahkan sampai Kalimantan dan Sulawesi” jelasnya santai.

Marketing sedekah.
Dikorek terkait kunci suksesnya 10 tahun mengembangkan bisnis percetakan, Tri Tunggal mengaku mengembangkan konsep marketing sedekah. Dia mengaku tidak punya tim pemasaran. Namun kualitas produk dan kepercayaan pelanggan sangat dijaga, termasuk kebiasaannya yang gemar sedekah.
“Pelanggan kami mulai dari rumah sakit, perkantoran pemerintah maupun swasta, bahkan perorangan. Ada juga orang yang datang ke tempat saya sebagai pekerja freeland. Mereka hanya bekerja mencari pelanggan, tapi tidak bekerja di tempat saya. Saya percaya saja, kalau rejeki sudah diatur dan tidak pernah salah alamat. Karena kualitas produk kami bagus dan sesuai dead line, mereka suka bahkan jadi sukses. Yang penting semua bisa bekerja dan untung saja” ungkapnya.

Baca Juga:  17 Calon Pimpinan Baznas Klaten Lolos Seleksi Administrasi

Pria yang masih aktif bermain bulutangkis itu mengaku sangat percaya mukjizat sedekah. Di saat pandemi dan banyak orang di PHK, usahanya justeru menambah karyawan. Tidak hanya itu, kadang pekerjaan itu juga diserahkan kepada kelompok lain biar sama-sama ikut berkembang.
“Saya tidak punya staf marketing. Yang penting kepada pelanggan kami berikan jaminan kualitas produk dan kepercayaan. Marketing saya adalah marketing sedekah. Apa yang bisa saya bantu misalnya untuk pengembangan pondok pesantren, pengajian, membangun masjid atau wakaf. Bahkan kemarin relawan covid yang sangat membutuhkan operasional, kami bisa bantu sedikit. Saya sangat percaya rezeki tidak akan pernah tertukar dan salah alamat. Kadang ada cerita orang tertipu dalam usahanya. Bisa ada yang salah dalam cara kita mencari rezeki” jelasnya.

Ditanya obsesi yang masih ingin diraih di tengah kesuksesan yang diraih di usia masih sangat muda itu, Tri Tunggal mengingatkan agar terus menjaga keseimbangan hidup antara mengejar dunia dan akherat.
“Sekarang anak-anak sudah besar dengan usahanya masing – masing. Bahkan yang nomor dua ini baru menyelesaikan studi di Yordania dan sudah nikah. Kalau dunia itu “sakmangan” (sudah cukup dengan sesuap nasi) saja. Manusia mau mengejar apa. Mau dipaksa-paksakan juga semua sudah ada batasan dan takarannya. Yang penting itu hidup bisa ibadah dengan baik, membantu orang lain, diberi sehat dan melihat anak-anak sukses. Itu sudah cukup” tuturnya menutup perbincangan.

Baca Juga:  Bikin Penasaran, Ada Sendang Kanjengan di Lorong Gedung Dinas Arpus Klaten

Penulis Joko Priyono Dinas Kominfo Klaten.

telah dibaca: 431 kali

Comments are closed.