Tiga Amalan Langit Sebagai Pelindung Balak di Bumi

]Jangan kendur virus korona masih ada dan belum mau mundur. Masyarakat dan pemerintah harus tetap waspada karena setiap saat korona bisa merenggut nyawa. Slogan memakai masker, menjaga jarak bicara, rajin mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas harus tetap dipatuhi masyarakat maka jangan bandel. Sifat sembrono dan abai protokol kesehatan akan merugikan diri sendiri sebab korona nyata-nyata ada.

Prokes itu adalah ikhtiar kita bersama yang realitas agar kita tidak terpapar korona. Tapi sebagai orang beriman harus yakin dan percaya bahwa tidak ada ujian atau balak sekali pun yang didalamnya tersembunyi hikmah. Kita dipaksa beradaptasi dengan peradaban baru. Dalam kondisi sulit merangsang pikir manusia untuk bertahan dan kreatif mencari solusi dengan inovasi masa kini untuk mengatasi masalah sulit.
Yang pasti korona ini harus membuat kita semakin bertakwa dengan bersungguh-sungguh menjaga ibadah dan menjauhi larangan Tuhan. Banyak waktu longgar di saat pandemi ini harus diisi dengan amalan yang diridloi. Hikmah korona itu salah satunya semakin mendekatkan diri dengan Tuhan melalui ikhtiar amalan.
Inilah sifat keseimbangan atau tawadzun yang harus dijaga dalam diri setiap orang beriman. Menjaga keseimbangan antara menjaga protokol kesehatan adalah ikhtiar bumi. Maka hal itu harus disempurnakan dengan amal ibadah yang syarí sebagai ikhtiar langit. Ketika salah satu ikhtiar ini ditinggalkan, maka yang muncul adalah ketimpangan dan jauh dari keberkahan.

Baca Juga:  Mulai 6 April Truk Galian C Dilarang Beroperasi

Ada tiga ihtiar langit sebagai amalan agar umat ini terhindar dari marabahaya dan bencana, termasuk terhindar dari covid 19.
Pertama adalah memperbanyak istighfar atau memohon ampunan. Istighfar amalan lisan dengan maksud memohon ampunan atas dosa dan khilaf hidup manusia kepada Allah SWT. Kesulitan hidup, musibah atau bencana tidak saja bermakna ujian, tapi bisa juga berarti hukuman. Istighfar itu memohon ampunan dosa dan menawar agar hukuman itu tidak menimpa.

Seperti kisah sahabat Hasan Basri yang ditanya muridnya yang datang membawa masalahnya. Seorang murid mengadukan sekian lama menikah tidak segera mendapatkan keturunan. Murid yang lain mempertanyakan tanah pertaniannya yang kering kerontang akibat kemarau tidak ada hujan sehingga tidak bisa menanam. Seorang yang lain mengaku dililit hutang. Tapi jawaban sahabat alim ini hanya satu, yakni istighfar.

Kedua adalah memperbanyak sedekah. Sedekah adalah tolak balak yang ampuh. Seperti diungkap HR Tabrani bahwa sedekah itu adalah tolak balak. Mengutip tulisan ulama Hari Nurdi yang mengatakan bahwa sedekah itu bertarung di langkasa melawan turunnnya balak atau bencana itu kembali ke langit. Sedekah itu bisa menjadi sarana mengikis sifat kecintaan dunia yang berlebihan. Kecintaan dunia yang berlebihan itu adalah nafsu yang melupakan manusia dan berjarak dengan Tuhannya sekaligus pengundang datangnya bencana.

Baca Juga:  Tidak Ada Mudik Lokal, Warga Perbatasan Diizinkan Melintas

Ketiga adalah memperbanyak doa dan dzikir untuk mengingat Tuhan. Sejarah perjalanan Jenderal Besar Sudirman mewariskan pelajaran luhur. Ketika malam gulita rumah beliau dikepung tentara Belanda lengkap dengan senjata di tangan, seolah tidak ada ruang sejengkal untuk bersembunyi. Ditengah sakit kanker paru yang diderita, tak mungkin lagi sang jenderal yang pernah menjadi guru ngaji ini untuk berlari. Maka beliau hanya bisa bersembunyi di selokan berlindung dibalik semak belukar yang ada sambil berdzikir dan berdoa.
Tentara Belanda lalu lalang berjalan sekitar semak. Andaikan pahlawan kelahiran Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga 24 Januari 1916 itu batuk, maka habis sudah sejarah beliau ditangkap atau pun dibunuh. Tapi Tuhan berkenan menolongnya. Tentara Belanda seolah dibutakan matanya dan selama beliau bersembunyi dibalik semak. Jenderal Besar yang wafat 29 Januari 1950 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta itu selamat dari ancaman tentara Belanda karena pertolongan Tuhan berkat doa dan dzikir yang selalu membasahi bibirnya pagi dan petang.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa menjaga kita dari segala bencana, termasuk bahaya korona.

Baca Juga:  Gubernur Minta Pemkab Dorong Serapan Zakat Lewat Baznas

Penulis Joko Priyono Tim Pemberitaan Dinas Kominfo Klaten.

telah dibaca: 54 kali

Comments are closed.