Tiga Lentera di Alam Kubur.

KLATEN – Tuhan Yang Maha Esa menciptakan semua makluknya dalam ukuran dan batasan yang pasti. Seperti benda ada bobotnya, jarak diukur panjangnya, musin dibatasni masanya, kerja ada pensiunnya, tak terkecuali umur manusia.
Takdir ini ketentuan mutlak yang tidak bisa ditolak bahwa hidup ada masanya. Maka kehidupan itu akan ditutup dengan kematian. Tidak ada yang langgeng. Tidak ada pula yang abadi, kecuali Sang Pemilik Kehidupan.

Tapi apakah kematian itu menjadi akhir kehidupan? Ternyata kematian juga bukan akhir kehidupan yang sesungguhnya. Untuk mengakhiri kehidupan dunia bisa jadi benar, tapi sesungguhnya kematian itu menjadi pintu masuk ke alam keabadian, yakni kehidupan tak terbatas yang bernama akherat.
Bagi orang beriman akherat menjadi alam kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan akhir yang tak berujung di mana setiap manusia akan mendapatkan balasan amal atas semua perilaku kehidupannya di dunia sekecil apa pun, biar pun sekedar suara hati yang berdetak.

Iman Ali Bin Abi Tolib menasehatkan hidup di dunia yang ada hanya amal, tiada balasan. Tapi sebaliknya di alam akherat yang ada hanyalah balasan tiada lagi amal.
Tapi ada terminal tunggu yang harus dilalui ketika manusia mati sebelum menuju alam akherat. Alam kubur menjadi alam persiapan menuju kehidupan abadi, tak ubahnya bayi di alam kandungan ibu menuju kehidupan dunia.

Baca Juga:  Wabup Minta FKUB Jadi Garda Depan Pencegahan Covid-19

Di kabarkan para ulama, alam kubur itu gelap gulita tanpa cahaya. Nasib manusia di alam kubur hanya ada dua yakni siksa atau nikmat kubur. Semua kembali tergantung pada amal perbuatannya di dunia. Baik atau buruk, taat atau tidak, beramal sholeh atau beramal maksiat maka akan berbanding adil, ia akan mendapatkan siksa atau nikmat kubur.
Kalau alam kubur itu gelap gulita, maka ada tiga cahaya penolong yang siapa saja memilikinya, maka kehidupannya di alam penantian itu akan terang benderang.

1.Ilmu
Ilmu akan menjadi cahaya, karena ilmu itu menjadi kebenaran yang akan menuntun manuasia ke jalan keselamatan dan kebahagian. Allah SWT akan mengangkat derajat manusia seiring kepahamannya dengan agama. Maka belajar agama menjadi perilaku setiap muslim yang benar, kalau tidak ingin kehidupannya dituntun oleh nafsu yang menyesatkan jauh dari kebenaran.

2.Sujud
Sujud menjadi bukti ketaatan sekaligus kecintaan. Keyakinan itu saja tidak cukup, tanpa bukti ketaatan. Maka menjaga sujud menjadi harta mahal bagi seorang muslim didorong mahabah atau cinta kepada dzat yang disembah. Sujud menjadi bukti menaklukan kesombongan dan nafsu dunia, ketika dahi itu menyentuh bumi. Sujud tanda ketaklukan manusia di atas kekuasaan Allah SWT, karena hanya Dia-lah yang berhak sombong atas semua kehidupan yang dicipta-Nya.

Baca Juga:  Girpasang Kian Keren, Dari Kopi Merapi, Sensasi Kereta Gantung Sampai Kuliner Ingkung

3.Wudlu
Air wudlu itu salah satu rukun yang harus dilakukan ketika seorang hamba ingin menyembah Dzat Yang Maha Suci. Air yang membasuh itu akan menjadi cahaya bagi wajah-wajah manusia yang beriman sekaligus sebagai pembeda. Maka begitu tingginya derajat Bilal Bin Robah sahabat Nabi itu ketika diperjalankan melalui Isra dan Miraj mengabarkan mendengar terompah kaki Bilal di surga.

Penulis Joko Priyono Tim Pemberitaan Dinas Kominfo Klaten.

telah dibaca: 73 kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *