Bukit Cinta dan Watuprau Objek Wisata Desa Gunung Gajah Kecamatan Bayat

Klaten – Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat dalam beberapa waktu terakhir ini mendadak ramai menjadi perbincangan para wisatawan. Sebuah desa yang berada 19 kilometer dari pusat perkotaan Klaten itu kini menyuguhkan wahana wisata yang cukup menarik. Wahana itu disebut gardu pandang Bukit Cinta.

Dengan mendaki anak tangga hingga menuju puncak bukit, para pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam yang indah nan sejuk. Berbagai spot unik disediakan di atas bukit untuk berswafoto. Bahkan di lokasi tersebut, pengunjung juga bisa menyaksikan keindahan kawasan Bayat hingga perkotaan Klaten.

Namun, dibalik keindahan alam itu, ternyata di dasar bukit juga terdapat sesuatu yang menarik perhatian. Yakni sebuah gundukan batu yang terbilang unik dan berbeda dengan jenis batu pada umumnya. Dengan memiliki ukuran kurang lebih lebar 7 meter dan panjang 30 meter, masyarakat sekitar menyebut batu tersebut adalah Watuprau.

Konon, batu itu dipercaya berasal dari kapal yang terbalik. Hal itu terjadi berawal dari sebuah kisah asmara antar Joko Tuo dengan Roro Denok. Dari cerita yang berkembang, Joko Tuo merupakan seorang pria sakti yang jatuh cinta terhadap wanita bernama Roro Denok. Ia bahkan berani melamar Roro Denok meski keduanya belum kenal lebih dekat.

“Saat hendak melamar, kemudian Roro Denok memberikan persyaratan untuk dibuatkan kapal dalam satu malam. Dari situ ternyata Joko Tuo justru sanggup dengan persyaratan itu,” kata Kepala Desa Gunung Gajah, Yoyok Kartika Cahyo, Sabtu (06/01/2018).

Sayangnya, keinginan Joko Tuo justru bertepuk sebelah tangan. Berbagi upaya dilakukan oleh Roro Denok untuk menggagalkan pembuatan kapal dalam semalam itu. Dan saat upaya itu berhasil, tiba-tiba kapal yang ditumpangi Joko Tuo dalam proses pembuatan menjadi terbalik. Hingga kini, masyarakat percaya bahwa Watuprau merupakan berwujudan dari kapal yang terbaik.

“Kalau dari cerita masyarakat dan orang tua zaman dahulu yang hampir seperti itu. Ketika diperhatikan memang batu ini hampir mirip dengan kapal terbalik,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan, sebelum kawasan Bukit Cinta ini terkenal, banyak mahasiswa dan peneliti sudah datang ke sini untuk memeriksa Watuprau. Bentuk dan tekstur batu ini dianggap unik dan terbilang berusia sangat tua. Bahkan lebih tua dari bebatuan yang ada di kawasan sini. Hingga saat ini, batu itu masih menjadi pusat penelitian dari berbagai pihak.

Sumber

telah dibaca: 141 kali

Bagikan melalui:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *